20

Anak perempuan itu kini sudah 2 dekade umurnya.
10 tahun yang lalu, tidak pernah sekalipun aku lupa. Tentang rasa penasaran, senang dan takut jadi satu. Penasaran tentang siapa yang akan jadi teman sekelas ku. Senang sekaligus takut dengan tempat baru yang tidak pernah sekilas pun aku bayangkan akan ku injak lantai nya.
Bangunan nya berwarna coklat, sama saja seperti sekolah ku dulu. Tapi lebih besar dan tidak pengap. Asyik. Orang-orang nya juga tidak sepadat di sana.
Di meja kedua pada barisan ke empat dekat jendela. Ada sebuah kursi kosong dekat seorang anak perempuan. Lalu aku di persilakan duduk di sana. Seperti telah di sediakan oleh Tuhan. Atau hanya dugaan ku saja dan padahal itu hanya kelebihan kursi, hehehe.
Anak perempuan di sebelahku bernama Ica. Seperti kebanyakan orang, Ica itu hanya panggilan, nama lengkapnya Afrisa Fadilah. Pakai huruf F ya, sekarang dia ribet tentang huruf F itu, padahal dulu dia tidak peduli walau di tulis pakai huruf P.
Aku senang luar biasa, aku sudah menganggap dia orang paling baik. Padahal aku baru tahu namanya saja. Dulu, pikiran ku tidak seribet sekarang, aku menganggap semua orang baik. Aku selalu husnudzan ya.
Aku saat itu berlari kegirangan menghampiri ibu ku dan berbagi cerita tentang teman baru ku, Ica. Entah kenapa aku tak pernah se-bahagia itu hanya karena bertemu teman baru. Ica, di awal saja sudah spesial untukku.
Aku semakin dekat dengannya. Bahkan katanya, aku dan dia bagaikan perangko pada sebuah surat. Haha.
Entah apa yang mirip, aku merasa sangat berbeda dengannya, tapi aku senang berada di dekat nya. Maka, ke-husnudzan-an ku saat pertama kali mengenalnya adalah sebuah kebenaran, dia memang anak baik. Baik sekali. Dia bahkan membuat ku merasa tempat asing itu seperti tempat kelahiran ku. 
Dia memang baik, tapi kadang-kadang tetap saja menyebalkan. Hanya karena aku belum mau meminjamkan mainan, dia tidak mau di ajak bicara selama 2 hari. Wah pada saat itu aku ragu, dia masih jadi teman baik atau bukan.
Tidak, dia tetap teman baik ku. Bahkan hal-hal seperti itu membuat persahabatan-bagai kepompong kami semakin erat. Hehe
Perpisahan sekolah tiba.
Kami bertukar kado. Setelah itu aku pulang ke tempat asalku. Tidak berkabar apalagi bertemu. Padahal kami masih dalam satu daerah, tapi rasanya seperti beda benua. Berlebihan ya?
Suatu hari Ica berkabar via SMS.  Aku kegirangan bak seseorang yang mendapat undian berhadiah.
Kami bahkan bertukar foto via MMS, padahal mahal banget biayanya. Hm.
Ica, bagiku adalah teman yang aku harapkan. Bisa di sebut juga, sesuai ekspektasi ku! Hehehe
Dan katanya, begitu pun aku baginya, dia selalu berharap kursi di sebelahnya tidak kosong lagi.  Setiap kali yang datang selalu saja anak laki-laki. Maka saat aku datang, dia senang. Hanya saja Ica ini egois untuk menunjukkannya. Atau gengsi gitu.
Saat kebanyakan teman yang jauh tidak lagi sedekat dulu, bagi kami itu tidak berlaku. Entah apa sebabnya, tapi kami selalu ingin tetap akrab.
10 tahun aku mengenal dia, separuh umurnya sekarang. Tak pernah sekali pun ku sesali perkenalan itu.
Ica yang dulu bahkan tidak mengenali bakatnya, kini sudah berani menantang dunia dengan bakatnya.
Ica yang dulu malu untuk menunjukkan apa yang dia rasakan, kini percaya diri dengan apa adanya.
Ica mampu mengenali dirinya luar dan dalam saat ada banyak orang tidak mampu mengenal dirinya masing-masing.
Begitu pun denganku, dia membantu ku untuk lebih love yourself. Bahkan tentang Allah pun, dia membantu ku untuk lebih mengenalNya.
Ica memang teman yang aku harapkan. Tapi dia tetap manusia biasa. Tidak selamanya dia seperti yang aku harapkan. Tapi se-kesal apapun aku padanya, aku dan dia tetap baik-baik saja.
Di titik tersulit pun, dia banyak membantu ku untuk tidak merasa sendirian, untuk tetap mengingat bahwa Allah itu selalu ada. Setiap aku ingat dia, aku selalu ingin berterima kasih sampai aku takut terlalu banyak memuji Ica. 
Aku hanya kagum dan bahagia.
Aku berterima kasih pada Allah karena Ica hadir pada garis takdir ku.

Sejak 10 tahun yang lalu, 17 Mei adalah salah satu hari yang harus di rayakan, bagaimanapun caranya. 20 tahun hidupnya, menurut ku dia sudah jadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Incredible Afrisa, Allah always be with you💙 


Komentar

  1. Tolong lah saya mau mewek sambil ngakak boleh gak si?! Gila beruntung banget emang orang-orang yang menjadi teman dekat saya wkwkkw becanda bu!!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kita baik-baik saja, bukan?