Kita baik-baik saja, bukan?

Tuhan, sekarang aku tahu apa yang tidak bisa di hitung kedalamannya apalagi di tebak apa isinya.
Ternyata itu hati manusia.

12 tahun aku mengenal dia, berkali-kali bertengkar bahkan tentang hal spele, tapi itu tidak mengapa. Kita pasti akan baik-baik saja dalam beberapa hari. Karena apa, karena terlalu banyak hal yang membahagiakan dari pada pertengkaran itu.

12 tahun yang lalu, aku dan dia bagai saling menemukan hal yang paling di inginkan pada masa kecilnya. Dia yang menunggu ku dan aku yang sangat membutuhkan teman. Teman yang benar-benar sesuai dengan maknanya. Betapa beruntungnya aku dulu bertemu dengannya yang mengisi memori indah di masa kecil ku.


Walau di masa remaja, kami berpisah. Tapi kami tetap mencari cara untuk terus terhubung. Entah apa motivasi nya, tapi itu mengalir begitu saja, kami merasa tumbuh bersama. Bertukar cerita tentang apapun bahkan tentang mimpi yang mungkin di tertawakan dunia. Aku percaya diri di hadapannya, aku merasa dia yang akan terus mendukung ku, hanya dia. Aku bahkan dengan bangga mengadu pada dunia, dia adalah sahabatku, selamanya. Tak peduli teman yang lain pergi, aku punya dia. Dan aku berharap dia pun merasa yang sama denganku. Aku sahabatnya.

Kami tumbuh bersama, dengan banyak rasa. Aku percaya dia pasti selalu jujur padaku menceritakan banyak hal yang bisa dia ceritakan.

Sampai pada suatu hari aku menemukan dia yang berubah, dia banyak berbicara hal yang baru, aku bangga sekaligus sedih. Dia bukan teman kecilku lagi. Bukan obrolan itu yang ingin aku dengar darinya. Aku marah dalam beberapa hari, namun tersadar. Mulai hari itu kami harus tetap tumbuh bersama dengan segala perubahan yang ada. Karena itu harus, asalkan menuju ke arah yang baik tentunya.

Kami yang beranjak dewasa menemukan banyak hal yang baru pada satu sama lain. Bahkan terkadang merasa sangat asing yang membuat sedih juga marah. Tapi bagi ku ya sudah, maafkanlah perubahan ini, dan tetap berteman seperti biasanya.

Karena aku berpikir semua ini wajar, ini perubahan yang memang akan selalu ada. Ku pikir masa transisi kami dari anak-anak ke remaja pun penuh perubahan, hanya saja kami jarang bertemu kala itu. Namun, aku tidak tahu bagaimana perasaan dia yang paling jujur seperti apa.


Sampai suatu hari dia berani bercerita..

Bahwa dia tidak senang tentang perubahan yang ada padaku.
Hampir semuanya
Aku yang menurutnya;

aku yang sering marah
aku yang mudah tersinggung
aku yang membuatnya tersinggung
aku yang sombong
aku yang punya uang namun pengecut
aku yang membayar semuanya dengan hadiah dan uang
aku yang berbeda dengan harapannya
aku yang sampai membuatnya tidak ingin mendapat hadiah
bahkan malas bepergian lagi denganku


Betapa gelapnya hari itu
Aku tertegun bukan hanya beberapa detik, tapi berhari-hari
Aku bahkan tidak punya kata-kata untuk menjawab semua pernyataannya
Aku kehabisan kata untuk menjelaskan apa yang kurasa hari itu
Sahabat ku dibuat sakit oleh ku sendiri
 

Tidak pernah terbayangkan bagiku, dia beranggapan seperti itu
Aku minta ampun pada Tuhan ku.

Yang ada di hati ku hanya maaf. Walau dia tidak suka kalau aku banyak meminta maaf
Aku berucap terima kasih, apa dia merasakan tulusnya terima kasih ku?

Tuhan, semua yang aku lakukan untuknya, bersamanya, semata-mata karena untuknya. Sudah itu saja. Karena dia temanku, dengan definisi teman yang sebenarnya. Yang bersama denganku, saat hari ku cerah, mendung bahkan badai. Tentang hadiah dan apapun itu yang berbentuk materi, semata-mata karena aku ingin dia merasa apa yang aku punya, karena aku tidak ingin sendiri saat aku punya corndog. Karena aku hanya ingin berbagi. Karena aku ingin bahagia bersamanya.

Mungkin banyak yang membuatnya tersinggung, bahkan dari berbagai macam gestur, candaan dan bahkan ketikan pesan WhatsApp ku, aku benar-benar ingin di maafkan dengan permintaan maafku bukan dengan ayam goreng yang di beli bersama dengannya.


Tuhan, aku mungkin terlambat sadar diri. Untuk tahu itu pun dia harus berani berbicara dahulu. Harusnya aku yang mulai meminta maaf.

Tuhan, semua maaf dan terima kasih ku untuknya adalah selalu tulus dan tidak pernah main-main. Siapa yang ingin menodai kata suci itu?
Aku bahkan sama sekali tidak ingin menyakitinya walau dengan sepatah kata pun, tidak. Tidak sengaja apalagi dengan sengaja. Tidak, tidak pernah.

Tidak bisakah kami seperti dahulu lagi?
Dengan tidak ada jarak yang mengganjal.
Memang semua hal tidak perlu di ceritakan, tapi rasanya aku terlalu takut menyakitinya lagi.
Tuhan, kenangan masa kecil kami abadi dalam memoriku.
Bahkan sampai sekarang pun, setiap langkah ku dengannya, kemanapun dan apa yang kami bicarakan semuanya terekam dengan jelas.
Ternyata kami sampai pada masa yang seperti ini. Tidak pernah aku bayangkan akan sesakit ini.

Tuhan, terima kasih.
Aku tidak pernah menyesali pertemuan dengannya 12 tahun yang lalu.

"Kepadaku yang hanya bermimpi
Tanpa tahu kerasnya dunia

Engkau membantuku dan berpesan
Hal terpenting yang harus engkau ingat
Adalah terus menatap ke depan
Aku mengangguk dan semakin kuat

Karena kau ada untuk diriku
Sampai mana pun ku sanggup melangkah
Di saat yang sulit ku lihat ke belakang
Untuk melihat ke sosok dirimu

Karena kau ada untuk diriku
Tanpa menyerah ku sanggup bertahan
Karena bagi diriku engkau selalu ada"

-JKT48 Karena kau ada untuk ku-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20